Metode SAW atau Simple Additive Weighting adalah
metode yang sering dikenal dengan mentode penjumlahan terbobot. Maksud
dari penjumlahan terbobot yaitu mencari penjumlahan terbobot dari rating
di tiap alternatif pada seluruh atribut/ kriteria. Hasil/ Skor total
yang diperoleh untuk sebuah alternatif yaitu dengan menjumlahkan semua
hasil perkalian antara rating / yang dibandingkan pada lintas atribut
dan bobot setiap atribut. Rating pada setiap atribut sebelumnya harus
sudah melalui proses normalisasi.
Metode SAW memerlukan proses normalisasi matriks keputusan x ke skala yang bisa dibandingkan dengan rating alternatif yang ada. Metode SAW dirumuskan dengan rumus berikut ini:
Keterangan rij merupakan rating kinerja yang ternormalisasi dari
alternatif Ai pada kriteria/ atribut Cj; i=1,2,3...,m dan j=1,2,3...,n.
Untuk setiap alternatif diberikan nilai preferensi (Vi) dengan rumus
sebagai berikut:
Maka akan diperoleh hasil perangkingan, v dengan nilai tinggi merupakan alternatif terbaik.
Itulah yang dimaksud metode SAW, semoga informasi tentang pengertian metode SAW tersebut bisa menjadi referensi yang baik.
Senin, 25 Mei 2015
pengertian AHP
Analitycal Hierarchy Process (AHP) Adalah metode untuk
memecahkan suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa
komponen dalam susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif
tentang pentingnya setiap variabel secara relatif, dan menetapkan
variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi guna mempengaruhi
hasil pada situasi tersebut.
Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu alternatif yang terbaik. Seperti melakukan penstrukturan persoalan, penentuan alternatif-alternatif, penenetapan nilai kemungkinan untuk variabel aleatori, penetap nilai, persyaratan preferensi terhadap waktu, dan spesifikasi atas resiko. Betapapun melebarnya alternatif yang dapat ditetapkan maupun terperincinya penjajagan nilai kemungkinan, keterbatasan yang tetap melingkupi adalah dasar pembandingan berbentuk suatu kriteria yang tunggal.
Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelomok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki.
Kelebihan Analitycal Hierarchy Process (AHP)
Kelebihan AHP dibandingkan dengan lainnya adalah :
Struktur yang berhirarki, sebagai konsekwensi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam
Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkosistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan
Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.
Selain itu, AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi obyektif dan multi-kriteria yang berdasarkan pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hirarki. Jadi, model ini merupakan suatu model pengambilan keputusan yang komprehensif
Prinsip Dasar Pemikiran AHP
Dalam memecahkan persoalan dengan analisis logis eksplisit, ada tiga prinsip yang mendasari pemikiran AHP, yakni : prinsip menyusun hirarki, prinsip menetapkan prioritas, dan prinsip konsistensi logis.
Prinsip Menyusun Hirarki
Prinsip menyusun hirarki adalah dengan menggambarkan dan menguraikan secara hirarki, dengan cara memecahakan persoalan menjadi unsur-unsur yang terpisah-pisah. Caranya dengan memperincikan pengetahuan, pikiran kita yang kompleks ke dalam bagian elemen pokoknya, lalu bagian ini ke dalam bagian-bagiannya, dan seterusnya secara hirarkis.
Penjabaran tujuan hirarki yang lebih rendah pada dasarnya ditujukan agar memperolah kriteria yang dapat diukur. Walaupun sebenarnya tidaklah selalu demikian keadaannya. Dalam beberapa hal tertentu, mungkin lebih menguntungkan bila menggunakan tujuan pada hirarki yang lebih tinggi dalam proses analisis. Semakin rendah dalam menjabarkan suatu tujuan, semakin mudah pula penentuan ukuran obyektif dan kriteria-kriterianya. Akan tetapi, ada kalanya dalam proses analisis pangambilan keputusan tidak memerlukan penjabaran yang terlalu terperinci. Maka salah satu cara untuk menyatakan ukuran pencapaiannya adalah menggunakan skala subyektif.
Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu alternatif yang terbaik. Seperti melakukan penstrukturan persoalan, penentuan alternatif-alternatif, penenetapan nilai kemungkinan untuk variabel aleatori, penetap nilai, persyaratan preferensi terhadap waktu, dan spesifikasi atas resiko. Betapapun melebarnya alternatif yang dapat ditetapkan maupun terperincinya penjajagan nilai kemungkinan, keterbatasan yang tetap melingkupi adalah dasar pembandingan berbentuk suatu kriteria yang tunggal.
Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelomok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki.
Kelebihan Analitycal Hierarchy Process (AHP)
Kelebihan AHP dibandingkan dengan lainnya adalah :
Struktur yang berhirarki, sebagai konsekwensi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam
Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkosistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan
Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.
Selain itu, AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi obyektif dan multi-kriteria yang berdasarkan pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hirarki. Jadi, model ini merupakan suatu model pengambilan keputusan yang komprehensif
Prinsip Dasar Pemikiran AHP
Dalam memecahkan persoalan dengan analisis logis eksplisit, ada tiga prinsip yang mendasari pemikiran AHP, yakni : prinsip menyusun hirarki, prinsip menetapkan prioritas, dan prinsip konsistensi logis.
Prinsip Menyusun Hirarki
Prinsip menyusun hirarki adalah dengan menggambarkan dan menguraikan secara hirarki, dengan cara memecahakan persoalan menjadi unsur-unsur yang terpisah-pisah. Caranya dengan memperincikan pengetahuan, pikiran kita yang kompleks ke dalam bagian elemen pokoknya, lalu bagian ini ke dalam bagian-bagiannya, dan seterusnya secara hirarkis.
Penjabaran tujuan hirarki yang lebih rendah pada dasarnya ditujukan agar memperolah kriteria yang dapat diukur. Walaupun sebenarnya tidaklah selalu demikian keadaannya. Dalam beberapa hal tertentu, mungkin lebih menguntungkan bila menggunakan tujuan pada hirarki yang lebih tinggi dalam proses analisis. Semakin rendah dalam menjabarkan suatu tujuan, semakin mudah pula penentuan ukuran obyektif dan kriteria-kriterianya. Akan tetapi, ada kalanya dalam proses analisis pangambilan keputusan tidak memerlukan penjabaran yang terlalu terperinci. Maka salah satu cara untuk menyatakan ukuran pencapaiannya adalah menggunakan skala subyektif.
Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Kelebihan Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Kelebihan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) meliputi :-
Memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam memproses data/informasi untuk pengambilan keputusan.
-
Menghemat waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah, terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur.
- Menghasilkan solusi dengan lebih cepat dan hasilnya dapat diandalkan.
-
Mampu memberikan berbagai alternatif dalam pengambilan keputusan, meskipun seandainya Sistem Pendukung Keputusan (SPK) tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil keputusan, namun dapat digunakan sebagai stimulan dalam memahami persoalan.
- Memperkuat keyakinan pengambil keputusan terhadap keputusan yang diambilnya.
-
Memberikan keuntungan kompetitif bagi organisasi secara keseluruhan dengan penghematan waktu, tenaga dan biaya.
Kekurangan Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Walaupun dirancang dengan sangat teliti
dan mempertimbangkan seluruh faktor yang ada, Sistem Pendukung Keputusan
(SPK) mempunyai kelemahan atau keterbatasan diantaranya yaitu :
-
Ada beberapa kemampuan manajemen dan bakat manusia yang tidak dapat dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak semuanya mencerminkan persoalan sebenarnya.
-
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) terbatas untuk memberikan alternatif dari pengetahuan yang diberikan kepadanya (pengatahuan dasar serta model dasar) pada waktu perancangan program tersebut.
-
Proses-proses yang dapat dilakukan oleh Sistem Pendukung Keputusan (SPK) biasanya tergantung juga pada kemampuan perangkat lunak yang digunakan.
-
Harus selalu diadakan perubahan secara kontinyu untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan yang terus berubah agar sistem tersebut selalu up to date.
-
Bagaimanapun juga harus diingat bahwa Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dirancang untuk membantu/mendukung pengambilan keputusan dengan mengolah informasi dan data yang diperlukan dan bukan untuk mengambil alih pengambilan keputusan.
Metode TOPSIS dalam Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Metode TOPSIS
Metode TOPSIS adalah salah satu
metode pengambilan keputusan multikriteria yang pertama kali
diperkenalkan oleh Yoon dan Hwang pada tahun 1981. Metode ini
merupakan salah satu metode yang banyak digunakan untuk
menyelesaikan pengambilan keputusan secara praktis. TOPSIS
memiliki konsep dimana alternatif yang terpilih merupakan alternatif
terbaik yang memiliki jarak terpendek dari solusi ideal positif dan
jarak terjauh dari solusi ideal negatif [4]. Semakin banyaknya faktor
yang harus dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan,
maka semakin relatif sulit juga untuk mengambilkeputusan terhadap suatu permasalahan. Apalagi jika upaya pengambilan keputusan dari suatu permasalahan tertentu, selain mempertimbangkan berbagai faktor/kriteria yang beragam, juga melibatkan beberapa orang pengambil keputusan. Permasalahan yang demikian dikenal dengan permasalahan multiple criteria decision making (MCDM). Dengan kata lain, MCDM juga dapat disebut sebagai suatu pengambilan keputusan untuk memilih alternatif terbaik dari sejumlah alternatif berdasarkan beberapa kriteria tertentu. Metode TOPSISdigunakan sebagai suatu upaya untuk menyelesaikan permasalahan multiple criteria decision making. Hal ini disebabkan konsepnya sederhana dan mudah dipahami, komputasinya efisien dan memiliki kemampuan untuk mengukur kinerja relatif dari alternatif-alternatif keputusan.
Langkah-langkah Metode TOPSIS
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan suatu permasalahan menggunakan metode TOPSIS adalah sebagai berikut [4]:- Menggambarkan alternatif (m) dan kriteria (n) ke dalam
sebuah matriks, dimana Xij adalah pengukuran pilihan dari
alternatif ke-i dan kriteria ke-j.Matriks ini dapat dilihat pada
persamaan satu.
- Membuat matriks R yaitu matriks keputusan ternormalisasi
Setiap normalisasi dari nilai rij dapat dilakukan dengan
perhitungan menggunakan persamaan dua.

- Membuat pembobotan pada matriks yang telah dinormalisasi Setelah
dinormalisasi, setiap kolom pada matriks R dikalikan dengan bobotbobot
(wj) untuk menghasilkan matriks pada persamaan tiga.

- Menentukan nilai solusi ideal positif dan solusi ideal negatif.
Solusi ideal dinotasikan A+, sedangkan solusi ideal negatif dinotasikan
A-. Persamaan untuk menentukan solusi ideal dapat dilihat pada persamaan
empat.

- Menghitung separation measure. Separation measure ini merupakan
pengukuran jarak dari suatu alternatif ke solusi ideal positif dan solusi ideal
negatif.
– Perhitungan solusi ideal positif dapat dilihat pada persamaan lima :

– Perhitungan solusi ideal negatif dapat dilihat pada persamaan enam :
- Menghitung nilai preferensi untuk setiap alternatif. Untuk
menentukan ranking tiap-tiap alternatif yang ada maka perlu dihitung
terlebih dahulu nilai preferensi dari tiap alternatif. Perhitungan
nilai preferensi dapat dilihat melalui persamaan tujuh.
Setelah
didapat nilai Ci+, maka alternatif dapat diranking berdasarkan
urutan Ci+. Dari hasil perankingan ini dapat dilihat alternatif
terbaik yaitu alternatif yang memiliki jarak terpendek dari solusi
ideal dan berjarak terjauh dari solusi ideal negatif.
Karakteristik Dan Pengertian Serta Fungsi Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) memiliki 6 karakteristik antara lain sebagai berikut :- Mendukung proses pengambilan keputusan yang menitik beratkan pada manajemen dengan persepsi.
-
Adanya interface manusia atau mesin dimana manusia sebagai user tetap memegang kontrol proses pengambilan keputusan.
-
Mendukung pengambilan keputusan untuk membahas masalah terstruktur, semi terstruktur dan tidak terstruktur.
- Memiliki kapasistas dialog untuk memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhan.
-
Memiliki subsistem-subsistem yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai kesatuan sistem.
-
Membutuhkan struktur data komprehensif yang dapat melayani kebutuhan informasi seluruh tahap manajemen.
Pengertian Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer
termasuk sistem berbasis pengetahuan atau manajemen pengetahuan yang
dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi
atau perusahaan. Dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang
mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi terstruktur yang spesifik.
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dapat
digambarkan sebagai sistem yang berkemampuan mendukung analisis adhoc
data, pemodelan keputusan, berorientasi keputusan, orientasi perencanaan
masa depan yang digunakan pada saat-saat yang tidak biasa. Sistem
Pendukung Keputusan (SPK) juga merupakan penggabungan sumber-sumber
kecerdasan individu dengan kemampuan komponen untuk memperbaiki kualitas
keputusan dan menjadi sistem informasi berbasis komputer untuk
manajemen pengambilan keputusan yang menangani masalah-masalah semi
struktur.
Dengan pengertian diatas, dapat diambil
suatu kesimpulan bahwa Sistem Pendukung Keputusan (SPK) bukan merupakan
alat pengambilan keputusan, melainkan merupakan sistem yang membantu
pengambil keputusan untuk melengkapi informasi dari data yang telah
diolah secara relevan dan diperlukan untuk membuat keputusan tentang suatu masalah dengan lebih cepat dan akurat. Sehingga sistem ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengambilan keputusan dalam proses pembuatan keputusan.
Fungsi Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Secara global dapat dikatakan bahwa
fungsi dari Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah untuk meningkatkan
kemampuan para pengambil keputusan dengan memberikan
alternatif-alternatif keputusan yang lebih banyak atau lebih baik,
sehingga dapat membantu untuk merumuskan masalah dan keadaan yang
dihadapi. Dengan demikian Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dapat
menghemat waktu, tenaga dan biaya. Jadi dapatlah dikatakan secara
singkat bahwa tujuan Sistem Penunjang Keputusan adalah untuk
meningkatkan efektivitas (do the right things) dan efesiensi (do the
things right) dalam pengambilan keputusan. Walaupun demikian penekanan
dari suatu Sistem Penunjang Keputusan (SPK) adalah pada peningkatan
efektivitas dari pengambilan keputusan dari pada efisiensinya.
Jumat, 27 Maret 2015
Sistem Pendukung Keputusan dan Program SPK Kuliner
Sistem Penunjang Pengambilan Keputusan
didefinisikan sebagai interaktif berbasis komputer yang membantu
pengambilan suatu keputusan memanfaatkan data dan model untuk
menyelesaikan masalah yang tidak terstruktur, Scoot-Morton (Turban,
2000).
Sistem Pendukung Keputusan yang dikemukakan
oleh Raymond Mclood. Jr dalam buku Sistem Informasi Manajemen (McLeod,
2001) menekankan bahwa Sistem Pendukung Keputusan adalah suatu sistem
informasi yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam memecahkan
masalah yang dihadapinya. Definisi selengkapnya adalah sistem penghasil
informasi spesifik yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah
tertentu yang harus dipecahkan oleh menejer ada berbagai tingkatan.
Sedangkan menurut Litlle (McLeod, 2001) mengemukakan bahwa sistem
pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi berbasis komputer
yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen
dalam menangani berbagai permasalahan yang terstruktur ataupun tidak
terstruktur dengan menggunakan data atau model.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu tugas utama manajemen adalah mempertahankan (existensi) dan menghasilkan kinerja (performance)
organisasi yang dikelolanya. Untuk itulah manajemen harus mengambil
keputusan mengenai langkah-langkah yang akan diambilnya, baik pada
tingkatan strategi, taktik maupun operasional.
Keputusan-keputusan dibuat untuk memecahkan
masalah. Dalam memecahkan suatu masalah, pemecahan masalah mungkin
membuat banyak keputusan. Keputusan merupakan rangkaian tindakan yang
perlu diikuti dalam memecahkan masalah untuk menghindari dan mengurangi
dampak negatif atau untuk memanfaatkan kesempatan.
Agar kualitas keputusan yang diambil lebih
baik maka diperlukan sistem pendukung keputusan yaitu yang berbasis
komputer interaktif, yang mambantu pembuat keputusan memanfaatkan data
dan model untuk menyelesaikan permasalahan yang tak terstruktur (Garry
dan Morton,1971).
Jenis-Jenis Keputusan
Jenis–jenis keputusan menurut Simon
dibedakan menjadi dua macam yaitu keputusan terprogram dan keputusan
tidak terprogram dalam buku Sistem Informasi Manajemen (McLeod, 2001).
a. Keputusan Terprogram
Keputusan–keputusan yang bersifat berulang
dan rutin, sedemikian hingga suatu prosedur pasti telah dibuat untuk
menanganinya sehingga keputusan tersebut tidak perlu diperlakukan
sebagai sesuatu yang baru tiap kali terjadi.
b. Keputusan Tak Terprogram
Keputusan–keputusan yang berkaitan dengan
berbagai persoalan baru, tidak terstruktur dan tidak konsisten. Tidak
ada metode yang pasti untuk menangani masalah ini karena belum pernah
ada sebelumnya, atau karena sifat dan struktur persisnya tidak terlihat
atau rumit.
Proses Pengambilan Keputusan.
Untuk memahami dengan lebih baik mengenai
permodelan, dapat mengikuti proses pengambilan keputusan yang melibatkan
tiga hal tahap utama : tahap intelegensi (intelligent phase), tahap perancangan (design phase), dan tahap pilihan (choice phase). Tahap keempat yaitu implementasi (implementation)
ditambahkan kemudian. Sebuah gambaran konseptual mengenai proses
pembuatan keputusan ditunjukkan pada gambar 2.1. Ada aliran aktifitas
yang berkesinambungan dari tahap intelegensi ke tahap perancangan dan
tahap perancangan ke tahap pilihan (garis tebal), tetapi pada beberapa tahap mungkin menjadi arus balik ke tahap sebelumnya.
Subsistem–subsistem sistem pendukung
keputusan terdiri dari 4 yaitu subsistem manajemen data, subsistem
manajemen model, subsistem manajemen pengetahuan dan subsistem antar
muka pengguna. Seperti pada gambar dibawah (Turban, 2000).
Gambar 1. Skema SPK
Dalam pembuatan aplikasi sistem pendukung
keputusan umumnya sistem dapat hasil keputusan yang dapat mengeluarkan
output beberapa alternatif lain yang dapat direkomendasikan. Adapun
contoh bentuk aplikasi sistem pendukung keputusan pada wisata kuliner
dibawah menunjukkan mengeluarkan ketupusan berdasarkan rangking dan
memiliki alternatif pilihan lain yang dapat direkomendasikan oleh
manajer/user.
Contoh Program SPK
Dengan contoh data inputan dengan mengisi data kriteria dan bobot
sesuai kebutuhan pemakai. Kriteria diantaranya adalah jenis makanan,
waktu buka, lokasi kuliner, budget, fasilitas, dan khas makanan. Peta di
ambil dari google eart untuk memvisualisasi data ruang geografi agar
lebih baik dengan bentuk yang lebih nyata. Sedangkan bobot dapat diatur
oleh pemakai sistem dan tidak dilakukan pemobobotan dalam koding.
Perhatikan gambar 2 dibawah;
Gambar 2. Proses SPK Kuliner
Pada gambar 2 di atas suatu hasil keputusan sistem berdasarkan data inputan yang didapatkan untuk pencarian adalah Pondok Cabe jenis makanan Ayam Goreng dengan
total skor persentase 98% dari total keseluruhan resto yang didapatkan
yaitu 96 resto yang memiliki pendekatan data yang dicari baik jenis
makanan, waktu buka, khas makanan, budget, suasana, fasilitas atau data
lokasi.Adapun resto yang memiliki total skor terkecil adalah Jimbaran Resto dengan total skor 40% yang memiliki perbedaan Jenis makanan, khas makanan, harga yang sangat jauh dari budget, dan memiliki persamaan suasana indoor dan memungkin jarak masih terjangkau.
Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System)
Sebuah aplikasi berupa Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support
System) mulai dikembangkan pada tahun 1970. Decision Support Sistem
(DSS) dengan didukung oleh sebuah sistem informasi berbasis komputer
dapat membantu seseorang dalam meningkatkan kinerjanya dalam pengambilan
keputusan. Seorang manajer di suatu perusahaan dapat memecahkan masalah
semi struktur, dimana manajer dan komputer harus bekerja sama sebagai
tim pemecah masalah dalam memecahkan masalah yang berada di area semi
struktur. DSS mendayagunakan resources individu-individu secara intelek dengan kemampuan komputer untuk meningkatkan kualitas keputusan. Definisi
Decision Support System dapat dikatakan sebagai sistem komputer yang
mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah
semi-terstruktur yang spesifik.
Tujuan Tujuan dari Decision Support System (DSS) antara lain adalah :
- membantu manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah semi struktur
- mendukung penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya
- meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan seorang manajer daripada efisiensinya.
Tahap-tahap
Tahap-tahap dalam pengambilan keputusan antara lain adalah :
-
kegiatan intelijen,
-
kegiatan merancang,
-
kegiatan memilih dan menelaah.
Kegiatan intelijen ini merupakan kegiatan mengamati lingkungan untuk
mengetahui kondisi-kondisi yang perlu diperbaiki. Kegiatan ini merupakan
tahapan dalam perkembangan cara berfikir. Untuk melakukan kegiatan
intelijen ini diperlukan sebuah sistem informasi, dimana informasi yang
diperlukan ini didapatkan dari kondisi internal maupun eksternal
sehingga seorang manajer dapat mengambil sebuah keputusan dengan tepat.
Kegiatan merancang merupakan sebuah kegiatan untuk menemukan,
mengembangkan dan menganalisis berbagai alternatif tindakan yang mungkin
untuk dilakukan. Tahap perancangan ini meliputi pengembangan dan
mengevaluasi serangkaian kegiatan alternatif. Pertimbangan-pertimbangan
utama telah diperkenalkan oleh Simon untuk melakukan tahapan ini, apakah
situasi keputusan ini terprogram atau tidak. Sedangkan kegiatan memilih
dan menelaah ini digunakan untuk memilih satu rangkaian tindakan
tertentu dari beberapa yang tersedia dan melakukan penilaian terhadap
tindakan yang telah dipilih.
Jenis-jenis
Jenis-jenis DSS menurut tingkat kerumitan dan tingkat dukungan pemecahan masalahnya adalah sebagai berikut:
- Mengambil elemen-elemen informasi.
-
Menaganalisis seluruh file.
-
Menyiapkan laporan dari berbagai file.
-
Memperkirakan dari akibat keputusan.
-
Mengusulkan keputusan.
-
Membuat keputusan.
Model
Model DSS terdiri dari:
-
Model matematika.
- Database.
- Perangkat lunak.
- Perusahaan beroperasi pada ekonomi yang tidak stabil.
- Perusahaan dihadapkan pada kompetisi dalam dan luar negeri yang meningkat.
- Perusahaan menghadapi peningkatan kesulitan dalam hal melacak jumlah operasi-operasi bisnis.
- Sistem komputer perusahaan tidak mendukung peningkatan tujuan perusahaan dalam hal efisiensi, profitabilitas dan mencari jalan masuk di pasar yang benar-benar menguntungkan.
Bengkel Manchining Center PT. IPTN menerima pemesanan dari Engineering
Office. Pesanan yang datang berupa Jadwal Induk Produksi lengkap dengan
struktur produk, routing sheet dan lead time tiap item produk. Manajer
bengkel harus memutuskan dengan segera mampu atau tidak mampu melayani
pesanan tersebut.
Tanpa bantuan suatu sistem yang mampu menghitung kapasitas yang
tersedia dari bengkel tersebut dan yang juga mampu menghitung dengan
cepat kebutuhan kapasitas akan pesanan tersebut, keputusan dari manajer
tidak dapat segera terwujud. Kalaupun manajer dapat segera memutuskan
mampu, keputusan tersebut tentunya hanya berdasarkan pengalaman masa
lalu dan keberanian semata dalam mengambil keputusan.
Sehingga hasil akhirnya tidak seperti yang diharapkan. Suatu sistem
pendukung keputusan yang mampu membantu manajer menghadapi masalah
tersebut diatas telah berhasil dirancang dalam tesis Antonius Sarwedi (Teknik Industri ITB, 1995)
yang berjudul ‘RANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK MENENTUKAN
WAKTU PENYELESAIAN PRODUK DAN PENENTUAN HARGA POKOK BARANG’.Untuk dapat
diterapkan di bengkel Machaning Center PT. IPTN pada kondisi riil sistem
tersebut perlu dimodifikasi karena pada sistem ini JIP yang digunakan
adalah JIP feasibel. Pada tugas akhir ini Sistem Pendukung Keputusan
telah berhasil dimodifikasi dengan memperhitungkan penjadwalan ditingkat
shop floor sehingga didapatkan JPI realistis. Akan tetapi ternyata
sistem ini tidak dapat diterapkan di bengkel Machining Center PT. IPTN
pada kondisi riilnya. Hal ini disebabkan karena di bengkel tersebut
tidak tersedia data struktur produk, data routing sheet dan data
kapasitas mesin tersedia. Penerapan DSS dalam Manajemen Akademik
Dalam berbagai proses manajemen akademik, proses pengambilan keputusan
telah banyak bergantung pada DSS yang telah dikembangkan. Penerapan DSS
diterapkan pada saat :
- keputusan penerimaan mahasiswa baru,
- evaluasi prestasi akademik,
- yudisium, dan
- penentuan mahasiswa berprestasi.
- Basis data sumber daya manusia / ketenagaan yang dikelola dalam kelompok aplikasi Sistem Informasi Ketenagaan (SINAGA), termasuk di antaranya basis data presensi/absensi pegawai (aplikasi Absensi sidik jari).
- Basis data akademik yang dikelola dalam kelompok aplikasi Sistem Informasi Akademik (SIAKAD), termasuk di antaranya basis data penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (aplikasi SIPEN dan aplikasi SIPEMAS).
- Basis data aset / sarana-prasarana yang dikelola dalam kelompok aplikasi Sistem Informasi SARANA-PRASARANA (SINAPRA).
- Basis data kemitraan / kerjasama yang dikelola dalam aplikasi Sistem Informasi Kerjasama (SIKERSA).
- Basis data keungan yang dikelola dalam kelompok aplikasi Sistem Informasi Keuangan (SIAKEU).
Dampak dari pemanfaatan Decision Support System (DSS) antara lain adalah :
- Masalah-masalah semi struktur dapat dipecahkan.
- Problem yang kompleks dapat diselesaikan.
- Sistem dapat berinteraksi dengan pemakainya.
- Dibandingkan dengan pengambilan keputusan secara intuisi, pengambilan keputusan dengan DSS dinilai lebih cepat dan hasilnyalebih baik.
- Menghasilkan acuan data untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh manajer yang kurang berpengalaman.
- Untuk masalah yang berulang, DSS dapat memberi keputusan yang lebih efektif.
- Fasilitas untuk mengambil data dapat memberikan kesempatan bagi beberapa manajer untuk berkomunikasi dengan lebih baik.
-
Meningkatkan produktivitas dan kontrol dari manajer.
Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh :
-
Faktor teknologi
-
Faktor kompleksitas struktural
-
Faktor pasar internasional
-
Faktor stabilitas politik
-
Faktor konsumerisme
-
Faktor intervensi pemerintah
-
Faktor informasi yang berkaitan dengan masalah tersebut,
-
Faktor gaya pengambilan keputusan dan
-
Faktor kemampuan (intelegensi ,persepsi, dan falsafah) serta
-
Pertimbangan pengambil keputusan. Pengambilan keputusan selalu berkaitan dengan ketidakpastian dari hasil keputusan yang diambil . Untuk mengurangi faktor ketidakpastian tersebut, keputusan membutuhkan informasi yang sahih mengenai kondisi yang telah, dan mungkin akan terjadi, kemudian mengolah informasi tersebut menjadi beberapa alternatif pemecahan masalah sebagai bahan pertimbangannya dalam memutuskan langkah yang akan dilaksanakannya, sehingga keputusan yang diambil diharapkan dapat menrberikan keuntungan yang maksimal.
- Menggunakan aplikasi Computer Base Information System (CBIS) untuk lingkungan kelompok, seperti: Electronic Meeting System (EMS) dan Group Decision Support System (GDSS). Sistem Pendukung Keputusan Kelompok (group decision support system), atau GDSS adalah suatu sistem berbasis komputer yang mendukung kelompok-kelompok orang yang terlibat dalam suatu tugas (tujuan) bersama dan yang menyediakan interface bagi suatu lingkungan yang digunakan bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)

